Selasa, 24 Februari 2009

Menanti Kasih Sayang Seorang Abang

Menanti Kasih Sayang Seorang Abang

Pagi yang cerah, matahari pun mulai menampakkan keperkasaannya.

“Kak Rezaaa...ayo bangun !!! Hari ini kan kakak ada kuliah pagi” kata Imel sambil membuka jendela kamar kakaknya. “Idiih…Imel, bisa nggak sich ngebangunin orang dengan cara yang sopan dan lagipula ini kan baru jam setengah tujuh” ketus Reza sambil menutup kembali jendela kamarnya. “Iya aku tahu, tapi semalam kakak janji kalau hari ini kak Reza mau nganterin aku kesekolah” kata Imel. “Eh...Imel, berapa kali sich aku harus bilang kalau aku masih ngantuk dan kalau mau kesekolah, ya udah pergi aja sana sama supir. Sekarang aku peringatkan kamu untuk keluar dari kamar aku dan jangan ganggu aku lagi, NGERTI !” kata Reza sambil membuka pintu kamarnya untuk persilahkan Imel keluar dari kamarnya. Imel pun keluar dari kamar kakaknya dan berangkat kesekolah sama supir sesuai yang dikatakan kakaknya.

Tibanya disekolah, bel tanda masuk berbunyi. Guru Imel pun memulai pelajaran. “Hari ini, ibu beri tugas kalian untuk membuat puisi karena puisi yang kalian buat nanti akan ibu nilai dan puisi yang paling bagus akan ibu ikutkan pada perlombaan puisi antar kelas” kata ibu guru. Imel pun mulai membuat puisi tentang kepribadiannya.

Sepulang sekolah, “Rin, boleh nggak aku pinjam novel kamu yang judulnya “Saudara Terkasih?” tanya Imel kepada Arin sahabatnya. “Boleh, ya udah kita barengan aja kerumah aku !” jawab Arin. Tibanya dirumah Arin, “Rin, itu siapa sich?” tanya Imel sambil menunjuk cowok yang baru turun dari mobil. “Ooo....itu kakak aku namanya kak Reno” jawab Arin. Imel dan Arin pun masuk kedalam rumah Arin. “Rin, menurut kamu punya saudara cowok itu enak nggak sich?” tanya Imel. “Menurut aku, punya saudara cowok itu enak banget terutama kak Reno, dia baik, pengertian dan aku bangga punya kak Reno” jawab Arin. Arin pun meminjamkan novelnya pada Imel. “Kak Reno, ntar malam temenin aku ke acara ulang tahun teman aku yach?” tanya Arin pada kakaknya. “Sebenarnya kakak ada janji sich sama teman kakak, tapi kakak batalin dech! Apa sich yang nggak bisa kakak lakuin buat kamu” jawab Reno.

Pagi harinya, puisi yang Imel buat pun mendapat nilai sempurna dan akan diperlombakan besok. Akan tetapi, Imel kurang senang karena besok nggak ada yang lihat Imel baca puisi. “Mama dan papa lagi keluar negeri, kak Reza ada sich dirumah tapi nggak mungkin dia mau datang” pikir Imel.

Tibanya dirumah, Imel sedih karena nggak ada orang yang mau dengerin cerita Imel. “Mama, papa, dan kak Reza nggak ada, hanya diary ini yang mau mendengarkan keluh kesahku” kata Imel dalam hati. Hari sudah malam, Imel ketiduran diatas meja belajarnya. Dan Reza pun baru pulang dari rumah temannya. Reza menuju kekamar Imel untuk mencari kasetnya yang pernah dipinjam Imel. Tanpa sengaja, Reza melihat fotonya yang terbingkai dan terpajang rapi diatas meja belajar Imel. “Kenapa sich anak ini nyimpan foto aku?” pikir Reza dalam hati. Reza juga melihat diary Imel. “Kurang kerjaan banget sich ini anak, tulis-tulis di buku diary? Tapi aku penasaran, apaan sich isinya?” kata Reza sambil membuka diary Imel.

Halaman demi halaman pun terbaca oleh Reza, tiba-tiba selembar foto jatuh dari selipan buku diary Imel. Reza pun mengambil foto itu dan ia terkejut setelah melihatnya karena foto itu adalah foto Imel saat masih 9 tahun dan Reza yang masih berusia 13 tahun.

Reza lupa akan kasetnya, ia pun keluar dari kamar Imel sambil membawa kedua foto itu. Reza menghampiri pembantunya yang sedang merapikan meja. “Bi, tahu nggak maksud Imel menyimpan foto-foto ini?” tanya Reza pada Bibi. “Sebenernya Non Imel sayang banget sama Den Reza, maksud dari foto Den Reza yang terbingkai ini, agar Non Imel bisa bicara sama foto Den Reza seolah-olah Non Imel bicara langsung dengan orangnya. Non Imel selalu begitu karena Den Reza nggak pernah peduli sama Non Imel padahal Non Imel ingin merasakan kasih sayang kakaknya walaupun cuma sekali. Bibi pikir begitu karena Bibi sering kok dengar Non Imel bicara sama foto Den Reza” jawab Bibi dengan jelas. “Truss, maksud dari foto kami saat masih kecil ini apa, Bi?” tanya Reza kembali.

“Bibi juga nggak terlalu yakin sich tapi mungkin hanya foto itu satu-satunya foto Non Imel dan Den Reza lagi berdua dan terlihat akrab. Bibi pikir begitu karena waktu Bibi nganterin buku tugas Non Imel yang ketinggalan, Bibi lihat Non Imel memperlihatkan foto ini pada teman-temannya untuk meyakinkan temannya kalau Non Imel punya kakak yang sayang padanya” jawab Bibi sambil menunjuk foto tersebut. “Ooo… gitu, makasih yach, Bi” ucap Reza sambil menatap kembali foto itu.

Reza masuk kekamarnya dan melempar tubuhnya ditempat tidur. Saat itu, Reza baru sadar kalau selama ini dia tidak pernah peduli sama adiknya sendiri. Padahal Imel sangat sayang padanya. Imel juga ingin merasakan kasih sayang seorang kakak seperti yang Arin miliki.

“Ternyata, kamu peduli sama kakak, sekasar bagaimanapun kakak terhadap kamu tetap saja kamu sayang sama kakak. Sekarang kakak baru sadar kalau sebenarnya kakak juga sayang sama kamu, Mel !” kata Reza sambil menatap foto Imel yang diambilnya saat dikamar Imel.

Keesokan harinya, Imel pun menerima piala dari kepala sekolah SLTP Bangsa sebagai juara pertama dalam perlombaan puisi menarik. “Mel, kenapa sich dari tadi kamu murung terus, dapat juara pertama bukannya senang malah sedih, memang ada apa sich?” tanya Arin. “Nggak ada apa-apa kok, aku cuma terharu aja atas kemenangan yang aku dapatkan ini” jawab Imel.

Semenit kemudian, Reno datang untuk menjemput Arin. “Mel, kak Reno udah datang tuh, kamu pulang bareng aku aja yach?” ajak Arin. “Makasih Rin, tapi kayaknya aku masih mau disini dech, kalian pulang aja duluan” kata Imel. Imel melihat dan tidak mengalihkan pandangannya pada Arin dan Reno yang sedang berjalan menuju mobil. Mobil Reno pun keluar dari gerbang sekolah dan menghilang dari pandangan Imel. Tiba-tiba Imel melihat mobil biru yang ia kenal masuk kehalaman sekolah. Dan ternyata yang Imel lihat itu tidak lain adalah Reza, kakak kesayangannya. “Untuk apa yach kak Reza kesini? Nggak mungkin banget kalau dia kesini mau ketemu aku, kak Reza kan nggak peduli sama aku” pikir Imel dalam hati sambil menatap kakaknya yang berjalan kearahnya.

“Hai. Imel” sapa Reza. Imel terdiam sambil menatap pandangan mata Reza padanya. “Kak Reza nggak salah sapa orang, khan?” tanya Imel pada Reza. “Nggak kok, memang benar kakak kesini mau ketemu kamu, Mel” jawab Reza. “Apa....kak Reza mau ketemu aku? Aku nggak lagi mimpi khan? Cubit aku dong kak Reza!” kata Imel sambil menatap kagum pada kakaknya. Reza mencubit pipi Imel dan Imel merasa sakit. “Ternyata benar, aku nggak lagi mimpi” kata Imel. “Mel, kakak minta maaf yach karena selama ini kakak nggak pernah mau peduli sama kamu, tapi sebenarnya kakak juga sayang kok sama kamu, Mel ! Mulai sekarang, kakak akan ngasih semua yang kamu mau, terutama rasa sayang kakak sama kamu” kata Reza sambil memeluk Imel. “Ternyata memang benar kata Arin kalau punya saudara cowok itu menyenangkan banget dan sekarang aku baru merasakan kasih sayang seorang kakak” kata Imel dalam hati sambil menatap senyum Reza yang tidak pernah ia lihat.

“Ya udah kalo gitu, sekarang kita ke Mall! Kita having fun disana, kakak juga akan beliin kamu apa aja yang kamu mau, misalnya baju, sepatu, tas, aksesoris, atau yang lainnya! Seisi Mall pun bakal kakak beliin buat kamu!” ajak Reza. “Kak Reza bercandanya kelewatan deh! Lagian aku khan nggak minta apa-apa selain…” ucap Imel. “Nggak ada alasan, anggap aja ini permintaan maaf kakak ke kamu!” ujar Reza sambil menarik Imel masuk kedalam mobil. Mereka pun pergi dengan senyuman.

Sekian lama Imel menanti kasih sayang Reza. Dan akhirnya, Imel pun mendapatkan apa yang ia inginkan selama ini. Reza juga akan terus menjaga dan menyayangi adiknya selamanya. Dan wajah Imel pun berubah, Imel mulai ceria semenjak kasih sayang Reza telah hadir dalam dirinya.